Perbedaan Puisi dan Sajak

Hai, sobat!
Dalam kesusastraan Indonesia, kita sering mendengar kata sajak atau puisi. Kerap kali orang menganggap bahwa keduanya sama, padahal berbeda. Penyebab dianggap sama pada dasarnya yaitu perbedaan tersebut tidak terlihat secara mutlak, karena hampir memiliki kesamaan. Sehingga untuk mempermudah membedakannya adalah dengan mengingat kata kunci bahwa sajak sudah tentu puisi, namun puisi belum tentu sajak.

Cara yang paling mudah untuk melihat perbedaan tersebut adalah dengan memperhatikan rima atau persamaan bunyinya.

Contoh puisi :
Judul : Nokturnal
Pengarang : Ade Pratama

Kutulis memoar sunyi dari karat senja
Cintaku terlelap jauh
Kujemput di mimpi
Saat jantung malam berdetak, tanah belum kerontang ...

Judul : Kebebasan
Pengarang : Rivai Apin

Di atas hancuran tembok yang kuruntuhkan
Berdiri aku atas kuda putihku, gaya dan jaya
Di hadapanku menghampar padang dan bukit
Dengan lengkungan langit yang membuatku lapar ruangan.
Contoh sajak :
Judul : Jurnal 26
Pengarang : Ade Pratama

Dari alur bermula tanpa candala
Jauh nun, namamu nirmala membias cakrawala
Dalam celah belukar, kau menawar kelakar
Merupa bunga yang mekar ...

Judul : Sajak Putih
Pengarang : Chairil Anwar

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda ... 
Dari contoh sudah jelas perbedaanya, puisi di atas tidak memiliki rima, sedangkan sajak memiliki persamaan bunyi di akhir kalimat dengan pola a-a-b-b dan a-b-a-b.
Jadi kesimpulannya bahwa puisi belum pasti sajak, tetapi sajak sudah pasti puisi.

Perlu diketahui, sajak tidak hanya memiliki persamaan bunyi di akhir kalimat, bahkan ada pula yang memiliki rima di awal kalimat. Contohnya yaitu puisi karya Boris Pasternak yang berjudul Batasan Sajak :
Sajak adalah siul melengking suram
Sajak adalah gemertak kerucut salju beku
Sajak adalah daun-daun menges sepanjang malam
Sajak adalah dua ekor burung malam menyanyikan duel
Sajak adalah manis kacang kapri mencekik mati
Sajak adalah air mata dunia di atas bahu
Berikut ini beberapa perbedaan antara puisi dan sajak :

1. Pengertian
  • Puisi
Menurut istilah, puisi berasal dari kata poezie dalam bahasa Belanda. Secara etimologi puisi berasal dari kata poesis dalam bahasa Yunani, yang berarti penciptaan. Dalam bahasa Yunani kuno puisi berasal dari kata poiƩo yang bermakna seni tertulis. Bahkan dalam bahasa inggris, puisi berasal dari kata poetry.
  • Sajak
Dalam bahasa inggris sajak berasal dari kata poem. 

2. Pengungkapan kata
  • Puisi 
Berdasarkan pengungkapan kata, makna puisi dapat terlihat samar, sebab lebih didominasi oleh majas atau cenderung memiliki makna konotatif daripada keharmonisan bunyi, sehingga mengundang pembaca untuk berimajinasi dan mentafsirkannya. Akan tetapi, puisi juga bisa mengandung rima.

Contoh :
Judul : Di Hatiku ada Bunga-bunga
Pengarang : Ade Pratama

Senja tersipu malu
Tersenyum kala angin merayu-rayu
Raja siang pun pipinya semakin merona
Menyapa si cantik rembulan terbangun dari lelapnya
Kita ambil contoh salah satu kalimat di atas yaitu raja siang, ketika pembaca menemukan kalimat raja siang, maka dibenaknya akan bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan raja siang tersebut? nah, di sini sudah jelas bahwa pembaca akan mentafsirkannya. Raja siang yang dimaksud merupakan satu dari berbagai macam contoh dari majas metafora yang artinya matahari. Selain dianggap sebagai majas, kalimat tersebut bisa dikatakan mengandung makna konotatif.
  • Sajak
Berdasarkan pengungkapan kata, sajak lebih didominasi oleh keharmonisan bunyi atau rima daripada majas. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan sajak juga mengandung majas agar terlihat samar. Tak hanya samar, sajak menyangkut keseluruhan isi.

Contoh :
Judul : Misteri
Pengarang : Ade Pratama

Kasih, kita seperti berlayar di samudera
Berdua mengarungi, berlabuh di tempat yang sama atau sebaliknya.
 3. Aturan
  • Puisi
Puisi (terutama pada aliran puisi lama), terikat aturan seperti jumlah baris, rima, jumlah suku kata, dan sebagainya. Tetapi untuk puisi kontemporer dan puisi modern, tidak terikat aturan, kecuali puisi modern yang berdasarkan bentuk seperti distikon, terzina, quatrain, kuint, dan lain-lain.

Contoh puisi lama (talibun) :
Berlayar menuju pulau di sana
Menerjang ombak di bulan purnama
Bersama nakhoda melempar jala
Agar memiliki gelar sarjana
Belajarlah dengan giat dan seksama
Jangan lupa selalu berdoa
Dari contoh di atas, terlihat aturan bahwa puisi lama, salah satunya adalah talibun, terikat aturan adanya sampiran dan isi, sehingga terlihat seperti pantun. Yang membedakannya adalah pantun terdiri dari 4 baris, sedangkan talibun terdiri minimal 6 baris.

Contoh puisi baru :
Judul : Aku
Pengarang : Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.
Dari contoh di atas, aliran puisi tersebut tidak terikat aturan, mulai dari rima dan sebagainya terlihat bebas.

Contoh puisi baru berdasarkan bentuk (terzina) :
Judul : Aku Ingin
Pengarang : Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Dari contoh puisi baru berdasarkan bentuk di atas adalah terikat aturan, karena terzina tiap 1 baitnya harus terdiri dari 3 baris. Adapun masalah rima, dalam aliran puisi baru berdasarkan bentuk tidak terikat aturan. Jadi, bila sobat ingin membuat puisi baru berdasarkan bentuknya seperti distikon, terzina, quatrain, dan lain-lain, itu tak diharuskan memiliki persamaan bunyi.
  •  Sajak
Sajak tidak terikat seperti aturan puisi lama, sajak lebih mementingkan perpaduan bunyi, sehingga sajak lebih dikenal sebagai persamaan bunyi atau rima.

Contoh :
Judul : Bayangmu Menjelma Hujan
Pengarang : Ade Pratama

Cahaya
Di tirai jendela
Mencemeti kemarau
Bernada parau

Di kota mati, terang kabut mencekik bulan
Prosa dawai layla tak dilantunkan
Bayangmu menjelma hujan
Menjajah kerinduan

Rindu membatu di kalbu
Bayangmu berlalu di pelukan sang bayu
Itulah perbedaan puisi dan sajak. Semoga sobat bisa membedakannya dengan mudah.
Bila sobat memiliki pendapat yang lain tentang cara membedakan puisi dan sajak, silakan berbagi ilmunya di kolom komentar, ya.
Donasi melalui paypal Bantu berikan donasi jika bacaannya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain www.tamapedia.com.

Berlangganan bacaan terbaru melalui email:

Buka Komentar

Hai sobat! sebaiknya baca peraturan komentar terlebih dahulu :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel